Kamis, 13 November 2008

LAPORAN AKHIR

DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN
PMKRI ( Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia ) kota Surabaya sebagai cabangnya bernaung dalam pelindung Sanctus Lucas itu dinamakan PMKRI Cabang Surabaya - Sanctus Lucas. Terletak di Taman Simpang Pahlawan 4A Surabaya - 60271 Jawa Timur - Indonesia, sebelah Hotel Garden Palace Surabaya. PMKRI merupakan wadah mahasiswa Katolik untuk berkumpul bersama dalam aktifitas kemahasiswaan - organisasi massa di luar kampus. Mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi di wilayah Surabaya, baik negeri maupun swasta berkumpul bersama untuk satu tujuan mulia melakukan yang terbaik bagi Gereja dan Negara.
Dalam perkembangannya PMKRI yang merupakan pemersatu KMK ( Keluarga Mahasiswa Katolik ) di tiap Perguruan Tinggi dan peleburan berbagai ide dan gagasan inovatif mahasiswa Katolik yang tersebar di Surabaya tidak hanya menarik minat mahasiswa Kristen untuk bergabung bersama meskipun jumlah mahasiswa Katolik tetaplah dominan, akan tetapi mereka juga mau mengikuti misi dan visi PMKRI. 
Sebagi Organisasi Massa, PMKRI mewajibkan anggotanya untuk mengikuti tahap-tahap pembinaan sebagi wadah untuk mempersiapkan kader-kadernya menghadapi tuntutan jaman. 
Bekal kepemimpinan itu ditanamkan mulai dari awal melalui :
• MPAB ( Masa Penerimaan Anggota Baru ) - wajib bagi semua calon anggota 
• MABIM ( Masa Bimbingan ) - wajib bagi semua calon anggota, untuk jenjang yang lebih tinggi : 
• LKTD ( Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar ) 
• LKTM ( Latihan Kepemimpinan Tingkat Menengah ) 
• LKTA ( Latihan Kepemimpinan Tingkat Atas ) 
• disamping itu para anggota dapat belajar melalui kepanitiaan yang ada pada setiap kegiatan PMKRI baik Sinterklass, Keranjang Natal, Dies Natalis, Birthday Celebration, Camping Rohani, Forum Diskusi, Retreat dsb. 


TEMUAN DAN ANALISIS DATA

A. Sejarah PMKRI

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan organisasi perjuangan mahasiswa katolik (juga bukan katolik) yang berazaskan Pancasila, dijiwai keKatolikan, dan disemangati kemahasiswaan. Organisasi ini berdiri pada tahun 1947, yang terdapat 26 KSV (Katholieke Studenten Vereniging) sebagai organisasi mahasiswa Katolik. Pada tanggal 12 juni 1947, di tahun 1971 mendeklarasikan kelompok Cipayung bersama mahasiswa kampus yang terdiri dari GMKI, GMNI, HMI, dan PMII. Pada saat itu juga sekaligus menjadi awal terentuknya PMKRI. Tahun 1974 terbentuklah trimerari yang di pelopori oleh kelompok cipayung bersama mahasiswa kampus. Kegiatan organisasi ini lebih banyak menyuarakan mahasiswa dengan warna-warna kekatolikannya.

Federasi KSV. Katholieke Studenten Vereniging (KSV)sebagai organisasi mahasiswa katolik telah berdiri di beberapa daerah berturut-turut : KSV St. Bellarminus Batavia, pada 10 November 1928; KSV St. Thomas Aquinas Bandung, pada 14 Desember 1947; KSV St. Lucas Surabaya, pada 12 Desember 1948. Selanjutnya tahun 1949 dibentuk Federasi KSV yang diketuai oleh Gan Keng Soei (KS Gani) dan Ouw Jong Peng Koen (PK Ojong). Adapun PMKRI Yogyakarta yang pertama kali diketuai oleh St. Munadjat Danusaputro, didirikan pada tanggal 25 Mei 1947.

Keinginan Federasi KSV untuk berfusi dengan Perserikatan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Yogyakarta saat itu, karena pada pertemuan antar KSV di penghujung 1949, dihasilkan keputusan bersama bahwa “….Kita bukan hanya mahasiswa Katolik, tetapi juga mahasiswa Katolik Indonesia ..." Federasi akhirnya mengutus Gan Keng Soei dan Ouw Jong Peng Koen untuk mengadakan pertemuan dengan moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Setelah mendapat saran dan berkat dari Vikaris Apostolik Batavia yang pro Indonesia, yaitu Mgr. Peter J Willekens SJ, utusan Federasi KSV (kecuali Ouw Jong Peng Koen yang batal hadir karena sakit) bertemu dengan moderator pada tanggal 18 Oktober 1950. Pertemuan dengan Ketua PMKRI Yogyakarta saat itu, yaitu PK Haryasudirja, bersama stafnya berlangsung sehari kemudian. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut intinya wakil federasi KSV yaitu Gan Keng Soei mengajak dan membahas keinginan untuk tidak berhimpun saja dalam satu wadah organisasi nasional mahasiswa Katolik Indonesia. Selain sebagai mahasiswa Katolik, kita semua adalah mahasiswa Katolik Indonesia.

Maksud Federasi KSV ini mendapat tanggapan positif moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Dan dari pertemuan itu dihasilkan dua keputusan lain yaitu : Setelah pertemuan tersebut, masing-masing organisasi harus mengadakan kongres untuk membahas rencana fusi. Dan, Kongres Gabungan antara Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta akan berlangsung di Yogyakarta tanggal 9 Juni 1951. Dalam kongres gabungan tanggal 9 Juni 1951, kongres dibuka secara resmi oleh PK Haryasudirja selaku wakil PMKRI Yogyakarta bersama Gan Keng Soei yang mewakili Federasi KSV. Diluar dugaan, Kongres yang semula direncanakan berlangsung hanya sehari, ternyata berjalan alot terutama dalam pembahasan satu topik, yakni penetapan tanggal berdirinya PMKRI. Di saat belum menemui kesepakatan, Kongres Gabungan sempat diskors untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing organisasi untuk kembali mengadakan kongres secara terpisah pada tanggal 10 Juni 1950. Akhirnya Kongres Gabungan untuk fusi-pun kembali digelar pada tanggal 11 Juni 1950 dan berhasil menghasilkan 14 keputusan yaitu :

Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta berfusi menjadi satu sebagai organisasi nasional mahasiswa katolik bernama ”Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia” yang kemudian disingkat PMKRI. Sebutan perhimpunan ini disepakati sebagai pertimbangan agar organisasi baru ini sudah bersiap-siap untuk mau dan mampu menampung masuk dan menyatunya organisasi-organisasi mahasiswa Katolik lain yang telah berdiri berlandaskan asas dan landasan lain, seperti KSV-KSV di daerah-daerah pendudukan Belanda guna menuju persatuan dan kesatuan Indonesia.

Dasar pedoman (AD/Anggaran Dasar) PMKRI Yogyakarta diterima sebagai AD sementara PMKRI hingga ditetapkannya AD PMKRI yang definitif. Keputusan - keputusan yang dihasilkan pada waktu itu :PMKRI didirikan di Yogyakarta pada tanggal 25 Mei 1947.

1. PMKRI berkedudukan di tempat kedudukan Pengurus Pusat PMKRI.

2. Empat cabang pertama PMKRI adalah : PMKRI Cabang Yogyakarta, PMKRI Cabang Bandung, PMKRI Cabang Jakarta, dan PMKRI Cabang Surabaya.

3. Dalam ART setiap Cabang PMKRI harus dicantumkan kalimat,”PMKRI berasal dari Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta yang berfusi tanggal 11 Juni 1951”

4. Santo pelindung PMKRI adalah Sanctus Thomas Aquinas

5. Semboyan PMKRI adalah “Religio Omnium Scientiarum Anima” yang artinya Agama adalah jiwa segala ilmu pengetahuan.

6. Baret PMKRI berwarna merah ungu (marun), dengan bol kuning di atasnya.

7. Kongres fusi ini selanjutnya disebut sebagai Kongres I PMKRI.

8. Kongres II PMKRI akan dilangsungkan di Surabaya, paling lambat sebelum akhir Desember 1952 dan PMKRI Cabang Surabaya sebagai tuan rumahnya.

9. Masa kepengurusan PMKRI adalah satu tahun, dengan catatan: untuk periode 1951-1952 berlangsung hingga diselenggarakannya Kongres II PMKRI.

10. PP PMKRI terpilih segera mendirikan cabang-cabang baru PMKRI diseluruh Indonesia dan mengenai hal ini perlu dikoordinasikan dengan pimpinan Waligereja Indonesia.

11. PK Haryasudirja secara aklamasi ditetapkan sebagai Ketua Umum PP PMKRI periode 1951-1952.

Dengan keputusan itu maka kelahiran PMKRI yang ditetapkan pada tanggal 25 Mei 1947 menjadi acuan tempat PMKRI berdiri. PMKRI didirikan di Balai Pertemuan Gereja Katolik Kotabaru Yogyakarta di jalan Margokridonggo (saat ini Jln. Abubakar Ali). Balai pertemuan tersebut sekarang bernama Gedung Widya Mandala. Penentuan tanggal 25 Mei 1947 yang bertepatan sebagai hari Pantekosta, sebagai hari lahirnya PMKRI, tidak bisa dilepaskan dari jasa Mgr. Albertus Soegijapranata. Atas saran beliaulah tanggal itu dipilih dan akhirnya disepakati para pendiri PMKRI, setelah sejak Desember 1946 proses penentuan tanggal kelahiran belum menemui hasil. Alasan beliau menetapkan tanggal tersebut adalah sebagai simbol turunnya roh ketiga dari Tri Tunggal Maha Kudus yaitu Roh Kudus kepada para mahasiswa katolik untuk berkumpul dan berjuang dengan landasan ajaran agama Katolik, membela, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia.

B. Isu-Isu yang di Kembangkan

PMKRI Cabang Surabaya tergabung dalam Kelompok Cipayung Jawa Timur yang terdiri atas HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) terus melakukan upaya diplomasi dengan pemerintah untuk reformasi dalam segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Tuntutan akan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta tegaknya keadilan terus dilakukan.

Tindak lanjut pemerintah dalam mengatasi berbagai persoalan yang terus menghantam negara kita baik dalam bidang ekonomi, politik, sosial-budaya dan keamanan harus terus ditingkatkan. Berbagai kerusuhan yang timbul sangat bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, harkat dan martabat manusia. Pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap tindakan biadab dan sangat rendah tersebut yang sangat mencoreng nama Indonesia di dunia Internasional. Yang mana dalam hal ini merka lebih banyak menyikapi masalah-masalah agama misalnya, pada kegiatan seminar sehari ''Kebersamaan dalam pluralitas agama menuju terciptanya masyarakat sipil'' di Denpasar, yang dilakukan pada hari rabu tanggal 11 September 2008. Selain itu juga mereka melakukan sebuah peningkatan pengetahuan dengan mengadakan pelatihan penulisan bagi kaum muda.

Kepedulian akan sesama diciptakan oleh rasa kebersamaan yang mendalam. Suasana kekeluargaan dan saling memiliki, perhatian dan tanggung jawab, saling menyayangi dan saling menghargai. Temukan semuanya itu di PMKRI. Tanggung jawab itu pula yang mendorong PMKRI untuk terus berperan aktif bagi bangsa ini dengan pemikiran dan ide kritis, salah satunya adalah tetap eksis dikelompok Cipayung Surabaya untuk memperjuangkan AMPERA bersama rekan-rekan dari GMKI, GMNI, PMII dan HMI. Nasionalisme yang tidak perlu diragukan lagi.

PMKRI merupakan bagian integral dari masyarakat yang ada di sekitarnya. PMKRI turut memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas dalam segala bentuk ketidakadilan sebagaimana tertuang dalam AMPERA ( Amanat Penderitaan Rakyat ). Komitmen PMKRI adalah penuh sebagai bagian dari rakyat kecil yang berjuang untuk Gereja dan Negara, Pro Eccleasia Et Patria !!!.

Menjadi anggota PMKRI berarti berkomitmen tetap untuk memperjuangkan Amanat Penderitaan Rakyat. Satu kesatuan yang erat masyarakat (rakyat) - Bangsa - Tuhan. Dengan berinteraksi dengan masyarakat kita dapat mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi rakyat, sebegai generasi penerus perjuangan bangsa kita harus peka menghadapi berbagai macam permasalahan dan menyelesaikannya demi kesejahteraan rakyat dari berbagai macam latar belakang sosial-budaya, ekonomi dan politik serta agama.

C. Model Gerakan

Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) adalah badan eksekutif PMKRI di level nasional yang bertugas mengkoordinir (mengurus) Cabang PMKRI berikut Calon Cabang PMKRI dan Kota Jajakan PMKRI. Lebih dari itu, PP PMKRI menjadi representasi organisasi dalam hubungan ekternal kekatolikan maupun internal kekatolikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejatinya, PP PMKRI bukan supra struktur dari DPC PMKRI (Cabang PMKRI), melainkan primus inter pares. Kepada tokoh-tokoh PMKRI (juga bukan PMKRI) yang berjasa kepada organisasi diberikan penghargaan Bintang Sanctus Thomas Aquinas. Pengusulan dan penetapaan dilakukan dalam Sidang MPA, dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PP PMKRI. Beberapa penerima Bintang Jasa Sanctus Thomas Aquinas :

1. St.Munadjat Danusaputro (MPA Malang, 1996)

2. Bung Kanis Pairera (MPA Malang, 1996)

3. Mgr. Albertus Soegijapranata (MPA Banjarmasin, 1998)

4. PK Ojong (MPA Banjarmasin, 1998)

Setiap organisasi memiliki visi dan misi, begitu juga organisasi PMKRI yang mempunyai visi dan misi yang berbeda dengan organisasi lain, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995:

“ Setiap organisasi mempunyai visi dan misi, organisasi ini juga punya yang jelas berbeda dengan organsasi lain, kalau kita mempunyai visi misi yang sama, kenapa kita harus mendirikan organisasi ini. Kita mendirikan organisasi ini karena kita mempunyai visi misi yang berbeda.”

Gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa Katolik untuk memperjuangkan perdamaian menggunakan aksi yang berbeda-beda. Masing-masing angkatan mempunyai cara untuk memperjuangkannya. Gerakan yang dilakukan ada yang fase 5 tahunan mengenai era politik atau kemerdekaan, fase 25 tahunan mengenai pergantian politik. Dalam organisasi ini model gerakan yang dilakukan untuk memperjuangkan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu yang mana dulu gerakan itu diidentikkan dengan melakukan aksi-aksi demo. Tetapi saai ini mereka banyak yang melakukannya dengan cara melalui kegiatan seminar, diskusi dll. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995:

Hal ini berdasarkan teori Marx dan Engels yang memberikan kontribusi penjelasan pada akar dari gerakan sosial yakni struktur sosial. Sementara Gramsci dan Lenin memberikan sumbangan tentang peranan politik (political opportunity), organisasi dan kebudayaan dalam melahirkan gerakan atau aksi sosial. Kebudayaan merupakan faktor penting dalam revolusi menurut pandangan Gramsci. Gerakan, baginya, hanya bersenjatakan organisasi, tetapi “intelektual kolektif” yang pandangan dan pikirannya tersampaikan ke masa pekerja melalui kader pemimpin menengah. Organiasi gerakan sosial didefinisikan sebagai kelompok yang memiliki kesadaran diri untuk bertindak, concern untuk mengungkapkan apa yang dilihatnya sebagai klaim-klaim dengan menentang kelompok elit, penguasa, atau kelompok lain (Tarrow, 1991:18).

“Gerakan yang di lakukan oleh setiap angkatan berbeda-beda, seperti pada saat angkatan saya itu tidak sama dengan angkatan sebelumnya. Gerakan yang di lakukan ada yang fase 5 tahna dan ada fase yang 25 tahunan. Semua tergantung pada angkatannya”

Teori Fungsionalisme Struktural melihat masyarakat dan pranata sosial sebagai sistem dimana seluruh bagiannya saling tergantung satu sama lain dan bekerja bersama guna menciptakan keseimbangan. Dalam hal ini “keseimbangan” merupakan unsur kunci utama dengan menekankan pentingnya kesatuan masyarakat dan sesuatu yang dimiliki bersama oleh anggotanya. Oleh sebab itu, gerakan sosial dianggap sebagai sesuatu yang “negatif” karena akan dapat menimbulkan konflik yang dapat mengganggu keharmonisan dalam masyarakat. Hal itu sesuai dengan temuan data yang ada yaitu: Isu-isu yang di kembangkan dalam organisasi ini adalah mengenai demokrasi dan cara memperjuangkannya, tetapi pada tahun ini yang di kembangkan mahasiswa kebanyakan sesuai dengan latar belakang agama. PMKRI telah banyak melahirkan kader katolik yang berperanan dalam perjalanan negara ini baik dalam bidang sosial politik maupun di birokrasi.

Pada periode 1998/1999 PMKRI banyak melakukan gerakan yang berupa demo, gerakan tersebut di antaranya;

· Aksi Demontrasi Menuntut Turunnya Kabinet Reformasi dan Pembentukan Dewan Rakyat

Dalam mencermati keadaan yang terus memburuk dimana rakyat berteriak-teriak sebagai reaksi naiknya harga kebutuhan pokok yang cukup tinggi, PMKRI sebagai pengemban amanat penderitaan rakyat sebagai satu kesatuan hati nurani dan budi dengan rakyat merasa perlu untuk menyuarakan aspirasi rakyat dengan melakukan Aksi Demontrasi Menuntut Turunnya Kabinet Reformasi dan Pembentukan DEWAN RAKYAT
Tempat : Halaman Gedung Negara Grahadi SURABAYA
Waktu : Kamis, 27 Agustus 1998 pada pk :10.00 - 11.38 WIB
Target : Pembacaan Statemen PMKRI Cabang SURABAYA
Dasar Pemikiran :

  • Janji yang diberikan oleh Kabinet Reformasi Pembangunan yang mampu mengatasi keadaan ekonomi dan kebutuhan pokok yang membumbung selama 3 bulan tidak terpenuhi (kenyataannya harga kebutuhan pokok makin melambung).
  • Sudah waktunya Gerakan Mahasiswa untuk mengambil dead clock yang diputuskan oleh pemerintahan Habibie, agar tidak terus berkuasa dan saatnya dibentuk Dewan Rakyat.
  • Kerja yang dilakukan Pemerintahan Habibie tidak mengarah keperbaikan Sistem dan Reformasi Total .

Konsep gerakan sosial diatas seperti yang digambarkan oleh Smelser (1962) adalah sebagai perilaku kolektif, di mana rakyat ikut serta dalam usaha memperbaiki dan menyusun kembali struktur sosial yang dipandang rusak.

Pola rekruitmen anggota dalam organisasi ini bersifat terbuka atau umum. Keanggotaan tidak harus berasal dari latar belakang agama katolik, tetapi non katolik juga bisa masuk dalam organisasi tersebut. MPAB (Masa Penerimaan Anggota Baru) dan MABIM ( Masa Bimbingan )merupakan pembinaan awal dan bersifat wajib bagi mahasiswa Katolik yang berminat untuk menjadi anggota PMKRI. Kemudian anggota PMKRI yang berminat untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi, kepemimpinan dan wawasannya dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu : LKTD, LKTM dan LKTA. MPAB di cabang-cabang PMKRI menerapkan pola penerimaan yang disesuaikan dengan kondisi cabang bersangkutan. PMKRI cabang Surabaya menggunakan metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi mahasiswa Surabaya yang demikian cepatnya mengalami perubahan dengan segala macam tuntutan. Selain kegitan pembinaan formal tersebut diatas PMKRI juga memiliki banyak kegiatan lain. Segala kegiatan yang ada di PMKRI didasari oleh Tiga Benang Merah, yaitu :

o Spiritualitas : Pembentukan mental yang dilandasi dengan semangat kekatolikan

o Fraternitas : Meningkatkan persaudaraan diantara sesama anggota dan masyarakat pada umumnya

o Intelektualitas : Meningkatkan wawasan berpikir dan intelegensi anggota

PMKRI bukanlah sebuah partai politik, tetapi PMKRI cenderung melibatkan diri dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat bersama organisasi kepemudaan dan kemasyarakatan lain maupun dalam ruang lingkup PMKRI sendiri. PMKRI juga tidak berafiliasi dengan Partai Politik manapun, namun sebagai sebuah Ormas, PMKRI tidak dapat lepas dari dinamika politik. Praktek politik yang dilakukan PMKRI terbatas pada pemberdayaan generasi muda dan penganalisaan kondisi sosial politik sebagai kontrol bagi kebijakan politik yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Sikap moral dan pernyataan sikap merupakan momentum perwujudan gejolak sosial-politik yang terjadi. Sejarah perjuangan bangsa. Untuk itu sebagai suatu organisasi sudah selayaknya PMKRI membina anggotanya untuk menjadi kader yang profesional.

PMKRI semakin dituntut untuk tetap eksis dan berperan aktif dalam mengemban visi dan misinya sesuai dengan tuntutan era globalisasi. Oleh karena itu PMKRI harus mampu untuk menciptakan peluang-peluang yang dapat dicatat dengan tinta emas sejarah perjuangan bangsa. Untuk itu sebagai suatu organisasi sudah selayaknya PMKRI membina anggotanya untuk menjadi kader yang profesional. Dengan semakin besar dan luasnya penyebaran kader PMKRI di tanah air maka PMKRI semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Gereja dan Negara.

Anggota PMKRI Cabang Surabaya Sanctus Lucas adalah mahasiswa-mahasiswi Katolik di Perguruan Tinggi - Perguruan Tinggi yang ada di wilayah Surabaya, baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta.

Dalam pemilihan kepengurusan, organisasi PMKRI terdapat sistem penyaringannya. Pola yang di lakukan ada yang vertikal dan horizontal. Pola vertikal mengenai mengepos dengan pemerintah dengan pola dan gerakan yang di sepakati untuk isu-isu perdamaian dengan yang mempunyai visi yang sama. Sedangkan pola yang horizontal mengenai konsep-konsep kaderisasi, mengenai sistem pola rapatnya dalam organisasi tersebut.

D. Filsafat yang Digunakan

Sesuai dengan azas yang dikembangkan maka dasar filsafat dari PMKRI adalah Pancasila, dijiwai keKatolikan, dan disemangati kemahasiswaan. Dalam perspektif sosiologi gerakan PKMRI didasari aliran Max Weber menganggap bahwa dalam rasionalisasi aktifitas manusia dari cirri-ciri yang dominan pada masyarakat modern. Seluruh bidang aktifitas social (ekonomi, hukum, ilmu pengetahuan, seni) terbebas dari dominasi tradisi dan mengikuti logikanya sendiri. Dengan penampilannya yang mirip sesuatu yang sederhana dan bersifat tetap, istilah rasionalisasi sebenarnya mengandung tiga dimensi yang terkombinasi namun relative berbeda; yakni, kalkulasi strategi, universalisasi dan spealisasi fungsi-fungsi social. Dalam maknanya yang lebih umum rasionalilas dalam sosiologi mengacu pada “rasio” (maksudnya adalah motif-motif yang disadari) yang mendorong individu untuk bertindak dengan suatu cara. Orang selanjutnya berbicara tentang “rasionalitas yang subjektif”. Dalam pengertian ini bisa jadi kedua rasionalitas menjadi kontradiktif.

PENUTUP
 
A. Kesimpulan
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan organisasi perjuangan mahasiswa katolik (juga bukan katolik) yang berazaskan Pancasila, dijiwai keKatolikan, dan disemangati kemahasiswaan. Organisasi ini berdiri pada tahun 1947, yang terdapat 26 KSV (Katholieke Studenten Vereniging) sebagai organisasi mahasiswa Katolik. Pada tanggal 12 juni 1947, di tahun 1971 mendeklarasikan kelompok Cipayung bersama mahasiswa kampus yang terdiri dari GMKI, GMNI, HMI, dan PMII. Pada saat itu juga sekaligus menjadi awal terentuknya PMKRI. Tahun 1974 terbentuklah trimerari yang di pelopori oleh kelompok cipayung bersama mahasiswa kampus. Kegiatan organisasi ini lebih banyak menyuarakan mahasiswa dengan warna-warna kekatolikannya. 
PMKRI merupakan bagian integral dari masyarakat yang ada di sekitarnya. PMKRI turut memperjuangkan aspirasi rakyat yang tertindas dalam segala bentuk ketidakadilan sebagaimana tertuang dalam AMPERA ( Amanat Penderitaan Rakyat ). Komitmen PMKRI adalah penuh sebagai bagian dari rakyat kecil yang berjuang untuk Gereja dan Negara, Pro Eccleasia Et Patria
Isu-isu yang di kembangkan dalam organisasi ini adalah mengenai demokrasi dan cara memperjuangkannya, tetapi pada tahun ini yang di kembangkan mahasiswa kebanyakan sesuai dengan latar belakang agama. PMKRI telah banyak melahirkan kader katolik yang berperanan dalam perjalanan negara ini baik dalam bidang sosial politik maupun di birokrasi.
Pola rekruitmen anggota dalam organisasi ini bersifat terbuka atau umum. Keanggotaan tidak harus berasal dari latar belakang agama katolik, tetapi non katolik juga bisa masuk dalam organisasi tersebut. MPAB (Masa Penerimaan Anggota Baru) dan MABIM ( Masa Bimbingan )merupakan pembinaan awal dan bersifat wajib bagi mahasiswa Katolik yang berminat untuk menjadi anggota PMKRI. Kemudian anggota PMKRI yang berminat untuk mengembangkan kemampuan berorganisasi, kepemimpinan dan wawasannya dapat mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu : LKTD, LKTM dan LKTA. MPAB di cabang-cabang PMKRI menerapkan pola penerimaan yang disesuaikan dengan kondisi cabang bersangkutan. PMKRI cabang Surabaya menggunakan metode yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi mahasiswa Surabaya yang demikian cepatnya mengalami perubahan dengan segala macam tuntutan. Selain kegitan pembinaan formal tersebut diatas PMKRI juga memiliki banyak kegiatan lain. Segala kegiatan yang ada di PMKRI didasari oleh Tiga Benang Merah, yaitu :
o Spiritualitas : Pembentukan mental yang dilandasi dengan semangat kekatolikan 
o Fraternitas : Meningkatkan persaudaraan diantara sesama anggota dan masyarakat pada umumnya 
Intelektualitas : Meningkatkan wawasan berpikir dan intelegensi anggota

B. Saran dan Kritik
Demikian hasil laporan penelitian Gerakan Sosial di PMKRI cabang Surabaya. Peneliti menyadari bahwa hasil laporan Gerakan Sosial ini jauh dari sempurna, maka daripada itu peneliti mohon kritik dan saran dari semua pihak. Kritik dan saran tersebut guna untuk memperbaiki hasil laporan penelitian selanjutnya





FIELD NOTE

Nama : Louis

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : laki-laki

Alamat : -

Hari/Tanggal : Selasa/12 November 2008

Pukul : 13.00-14.00 WIB

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) adalah organisasi mahasiswa katolik ekstra universiter yang telah berdiri sejak awal berdirinya Republik Indonesia. PMKRI telah banyak melahirkan kader katolik yang berperanan dalam perjalanan negara ini baik dalam bidang sosial politik maupun di birokrasi. Hal yang menonjol selama masa di PMKRI adalah intensnya latihan berorganisasi seperti: menulis proposal kegiatan, merencanakan kegiatan, menggalang dana; latihan kepemimpinan seperti memimpin rapat, teknik mememecahkan masalah, publik speaking, berdebat, tentang integritas, menjaga kedaulatan organisasi dan pembentukan nilai-nilai yang berdasarkan kekristenan, kemahasiswaan dan intelektualitas melalui berbagai bentuk kegiatan.

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan sebuah wadah yang turut ikut serta secara penuh tanggung jawab untuk memperjuangakan amanat penderitaan rakyat demi tercapainya masyarakat adil dan makmur yang berdasarkanPancasila. Wadah ini didirikan pada tanggal 25 Mei 1947. Mungkin sudah banyak orang yang mengetahui nama PMKRI, tetapi untuk memahami apa dan bagaimana sesungguhnya masih terbatas pada orang-orang tertentu saja termasuk anggota PMKRI sendiri. PMKRI sebagai Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) telah mengidentitaskan dirinya sebagai Organisasi Pembinaan dan Perjuangan. Hal ini dalam rangka perwujudan tujuan PMKRI sebagaimana yang termaktub dalam pasal 5 Anggaran Dasar (AD) Perhimpunan yakni "Ikut serta dengan penuh tanggung jawab untuk menebus amanat penderitaan rakyat demi tercapainya masyarakat yang adil makmur berdasarkan pancasila, dengan : a. Mengembangkan kerohanian, pengertahuan dan kejasmanian para anggotanya agar terciptanya Sarjana ahli yang Pancasilais, Katolik dan Patriotik, b. Turut serta dalam menyelesaikan dan memperjuangkan kepentingan Mahasiswa umumnya dan anggota khususnya, c. Turut menyempurnakan kehidupan masyarakat Indonesia untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dengan berlandaskan pancasila.

Dalam segala orientasi, arah dan geraknya, PMKRI senantiasa dilanadasi oleh apa yang disebut "Tiga Benang Merah" yang terdiri dari Kristianitas, Intelektualitas dan Fraternitas. Ketiga benang merah ini merupakan strategi dasar pembinaan PMKRI yang diwujudkan demi suatu bentuk pembinaan untuk, oleh dan dari PMKRI.

reflektif:
Kegiatan PMKRI


Peneliti

Siti Khojiatun A.



FIELD NOTE

Nama : Sita

Umur : 24 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : -

Hari/Tanggal : Selasa/12 November 2008

Pukul : 13.00-14.00 WIB


Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan sebuah wadah yang turut ikut serta secara penuh tanggung jawab untuk memperjuangakan amanat penderitaan rakyat demi tercapainya masyarakat adil dan makmur yang berdasarkan Pancasila.
Mungkin sudah banyak orang yang mengetahui nama PMKRI, tetapi untuk memahami apa dan bagaimana sesungguhnya masih terbatas pada orang-orang tertentu saja termasuk anggota PMKRI sendiri.

Salah satu usaha yang dilakukan dalam peningkatan pengetahuan mereka mengadakan pelatihan penulisan bagi kaum muda. Karena perkembangan belakangan ini menunjukkan bahwa tidak cukup banyak para penulis muda Katolik yang berkiprah dalam wacana ruang publik yang ada. Tak ada cukup banyak penulis muda dengan keahlian dalam bidang masing-masing menyuarakan keprihatinan-keprihatinan yang ada di sekitar kita, mulai dari soal pendidikan, agama yang inklusif, soal lingkungan hidup, kesehatan, hingga ke masalah sosial dan politik. Bagaimana pun juga proses pelatihan dan pengembangan para penulis muda ini juga merupakan bagian dari proses pembentukan intelektual muda Katolik di masa mendatang, dan diharapkan bahwa dengan proses ini akan memberikan sumbangan hadirnya generasi muda yang turut menyuarakan keprihatinan bersama, ikut dalam wacana dalam kerangka penguatan civil society di masa mendatang, serta ikut serta dalam proses pembentukan masyarakat yang lebih demokratis dan pluralis di masa mendatang. Oleh karena itu pada kesempatan ini hendak digagas adanya suatu program jangka panjang untuk menumbuhkan para penulis muda di masa mendatang, dengan suatu keterpaduan mekanisme pelatihan, mentoring dan penambahan wawasan kepada generasi muda Katolik dengan akhikriteria peserta yaitu: usia 18-23 tahun, peserta dicari paroki teritorial, paroki mahasiswa dan berbagai kelompok mahasiswa lainnya dan untuk anak SMA tetap dipertimbangkan, namun dibatasi hanya tingkat dasar saja. Prinsipnya gender balance.

Saat seminar sehari ''Kebersamaan dalam pluralitas agama menuju terciptanya masyarakat sipil'' di Denpasar, Rabu (11/9). Menyatakan bahwa perbedaan agama menurutnya sesungguhnya hanya berada pada tataran dogmatis, tetapi pada esensial dapat diangkat berbagai persamaan yang mendasar. Pada hakikatnya semua agama mengandung muatan ajaran tentang ketuhanan, kemanusiaan, kasih sayang, persaudaraan sejati dan penghargaan terhadap hak-hak kemanusiaan. Dikatakan, potensi keanekaragaman budaya, adat istiadat, suku dan agama dapat menjadi potensi dasar bagi kemajuan bangsa jika dikelola dengan manajemen yang tepat dan bijaksana. Ibarat alat musik, dapat menghasilkan sebuah irama lagu yang merdu bila dibunyikan dengan tangga nada yang sesuai dan aransemen yang tepat. Namun sebaliknya alat musik yang beranekaragam tersebut dapat mengganggu kenyamanan jika dibunyikan tanpa aturan sehingga menimbulkan kegaduhan. Seminar ini merupakan wujud dari upaya dalam mempromosikan perdamaian. Selain melewati kegiatan seminar gerakan perdamain dapat kita laksanakan dengan mengikuti beberapa forum silaturahmi dengan beberapa organisasi baik organisasi keagamaan maupun organisasi umum.

Dana PMKRI ini didapat dari iuran anggota dan sisa uang dari berbagai kegiatan, misalnya saja seminar yang telah dilaksanakan, yang mana uangnya akan dimasukkan kekas PMKRI.

reflektif:

Awal terbentuknya

Pelatihan penulisan bagi kaum muda

Tanggapan mereka mengenai perbedaan agama

Sumber dana


Peneliti
Dewi Kemala. S



FIELD NOTE

Nama : Senior PMKRI
Umur : 34 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Alamat : -
Hari/Tanggal : Rabu/12 November 2008
Pukul : 13.00-14.00 WIB

Perbedaan agama sesungguhnya hanya berada pada tataran dogmatis, tetapi pada esensial dapat diangkat berbagai persamaan yang mendasar. Pada hakikatnya semua agama mengandung muatan ajaran tentang ketuhanan, kemanusiaan, kasih sayang, persaudaraan sejati dan penghargaan terhadap hak-hak kemanusiaan. Hal itu dikatakan Haji Kasno Sudaryanto, saat seminar sehari ''Kebersamaan dalam pluralitas agama menuju terciptanya masyarakat sipil'' di Denpasar, Rabu (11/9) kemarin.

Seminar yang diprakarsai Wanita Katolik RI (WKRI) cabang Denpasar bekerja sama dengan Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI) cabang Denpasar itu dipandu Benito Lopulalan.

Seminar itu menghadirkan narasumber dari berbagai tokoh dan pengamat agama yaitu Agus Indra Udayana (Hindu), Bambang Noorsena (Kristen), Rm Fadjar Tedjo Soekarno (Katolik), Kayan (Buddha), dan Haji Kasno Sudaryanto (Islam). Dikatakan, potensi keanekaragaman budaya, adat istiadat, suku dan agama dapat menjadi potensi dasar bagi kemajuan bangsa jika dikelola dengan manajemen yang tepat dan bijaksana. Ibarat alat musik, dapat menghasilkan sebuah irama lagu yang merdu bila dibunyikan dengan tangga nada yang sesuai dan aransemen yang tepat. Namun sebaliknya alat musik yang beranekaragam tersebut dapat mengganggu kenyamanan jika dibunyikan tanpa aturan sehingga menimbulkan kegaduhan.

Lalu, bagaimana upaya menjaga keajegan Bali? Agus Indra Udayana mengatakan, untuk menjaga Bali tetap ajeg, semua pihak harus bergandengan tangan. Menjaga perdamaian merupakan tanggung jawab bersama. Dengan bergandengan tangan, semua tokoh agama di Bali dapat menyebarkan nilai-nilai perdamaian ke tingkat grass root. Menjaga perdamaian Bali merupakan usaha terus-menerus.

Sependapat dengan Agus Indra Udayana, pengamat agama Bambang Noorsena mengatakan, menjaga perdamaian Bali itu tanggung jawab bersama. Yang terpenting dari itu adalah motivasi. Dorongan itu datangnya dari dalam diri umat. Bambang Noorsena melihat perdamaian di Bali selama ini sudah baik, hubungan antarpemeluk agama sudah terjalin bagus. Sekarang hal itu tinggal dipertahankan dan ditingkatkan. Tugas bersama untuk menjaganya dari faktor eksternal yang ingin merusak hubungan yang sudah terbina dengan baik selama ini.

Haji Kasno Sudaryanto mengatakan, konsep-konsep kebersamaan yang telah terbina dengan baik di Bali tetap harus dijaga. Konsep menyamabraya dalam konteks pluralitas agama di Bali sangat perlu dipertahankan dan dibudayakan, sehingga toleransi tetap terbina. Romo Fadjar Tedjo Soekarno Pr. mengatakan, dalam tingkat tumpulnya hati nurani perlu ada gerakan moral.


reflektif:
Agama pada tataran dogmatis
Narasumber dari bebagai pengamat agama
Perdamaian penting bagi warga Bali
Pluralitas di Bali perlu dipertahankan

Pe
neliti
Grace Dwiana N.



Jumat, 31 Oktober 2008

LAPORAN SEMENTARA

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) merupakan organisasi kemasyarakatan (Ormas) Katolik yang berfungsi sebagai organisasi pembinaan dan organisasi perjuangan mahasiswa katolik (juga bukan katolik) yang berazaskan Pancasila, dijiwai keKatolikan, dan disemangati kemahasiswaan.
Organisasi ini berdiri pada tahun 1947, yang terdapat 26 KSV (Katholieke Studenten Vereniging) sebagai organisasi mahasiswa Katolik. Pada tanggal 12 juni 1947, di tahun 1971 mendeklarasikan kelompok Cipayung bersama mahasiswa kampus yang terdiri dari GMKI, GMNI, HMI, dan PMII. Pada saat itu juga sekaligus menjadi awal terentuknya PMKRI. Tahun 1974 terbentuklah trimerari yang di pelopori oleh kelompok cipayung bersama mahasiswa kampus. Kegiatan organisasi ini lebih banyak menyuarakan mahasiswa dengan warna-warna kekatolikannya.
Maksud Federasi KSV ini mendapat tanggapan positif moderator dan pimpinan PMKRI Yogyakarta. Dan dari pertemuan itu dihasilkan dua keputusan lain yaitu :
  • Setelah pertemuan tersebut, masing-masing organisasi harus mengadakan kongres untuk membahas rencana fusi.
  • Kongres Gabungan antara Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta akan berlangsung di Yogyakarta tanggal 9 Juni 1951.

Dalam kongres gabungan tanggal 9 Juni 1951, kongres dibuka secara resmi oleh PK Haryasudirja selaku wakil PMKRI Yogyakarta bersama Gan Keng Soei yang mewakili Federasi KSV. Diluar dugaan, Kongres yang semula direncanakan berlangsung hanya sehari, ternyata berjalan alot terutama dalam pembahasan satu topik, yakni penetapan tanggal berdirinya PMKRI. Di saat belum menemui kesepakatan, Kongres Gabungan sempat diskors untuk memberikan kesempatan kepada masing-masing organisasi untuk kembali mengadakan kongres secara terpisah pada tanggal 10 Juni 1950. Akhirnya Kongres Gabungan untuk fusi-pun kembali digelar pada tanggal 11 Juni 1950 dan berhasil menghasilkan 14 keputusan yaitu: Federasi KSV dan PMKRI Yogyakarta berfusi menjadi satu sebagai organisasi nasional mahasiswa katolik bernama ”Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia” yang kemudian disingkat PMKRI. Sebutan perhimpunan ini disepakati sebagai pertimbangan agar organisasi baru ini sudah bersiap-siap untuk mau dan mampu menampung masuk dan menyatunya organisasi-organisasi mahasiswa Katolik lain yang telah berdiri berlandaskan asas dan landasan lain, seperti KSV-KSV di daerah-daerah pendudukan Belanda guna menuju persatuan dan kesatuan Indonesia.

Setiap organisasi memiliki visi dan misi, begitu juga organisasi PMKRI yang mempunyai visi dan misi yang berbeda dengan organisasi lain, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995:

“ Setiap organisasi mempunyai visi dan misi, organisasi ini juga punya yang jelas berbeda dengan organsasi lain, kalau kita mempunyai visi misi yang sama, kenapa kita harus mendirikan organisasi ini. Kita mendirikan organisasi ini karena kita mempunyai visi misi yang berbeda.”
Gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa Katolik untuk memperjuangkan perdamaian menggunakan aksi yang berbeda-beda. Masing-masing angkatan mempunyai cara untuk memperjuangkannya. Gerakan yang dilakukan ada yang fase 5 tahunan mengenai era politik atau kemerdekaan, fase 25 tahunan mengenai pergantian politik. Dalam organisasi ini model gerakan yang dilakukan untuk memperjuangkan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu yang mana dulu gerakan itu diidentikkan dengan melakukan aksi-aksi demo. Tetapi saai ini mereka banyak yang melakukannya dengan cara melalui kegiatan seminar, diskusi dll. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995: “Gerakan yang di lakukan oleh setian angkatan berbeda-beda, seperti pada saat angkatan saya itu tidak sama dengan angkatan sebelumnya. Gerakan yang di lakukan ada yang fase 5 tahna dan ada fase yang 25 tahunan. Semua tergantung pada angkatannya”
Isu-isu yang di kembangkan dalam organisasi ini adalah mengenai demokrasi dan cara memperjuangkannya, tetapi pada tahun ini yang di kembangkan mahasiswa kebanyakan sesuai dengan latar belakang agama. Pola rekruitmen anggota dalam organisasi ini bersifta terbuka utau umum. Keanggotaan tidak harus berasal dari katolik, tetapi non katolik juga bisa masuk dalam organisasi tersebut. Dalam pemilihan kepengurusan, organisasi PMKRI terdapat sistem penyaringannya. Pola yang di lakukan ada yang vertikal dan horizontal. Pola vertikal mengenai mengepos dengan pemerintah dengan pola dan gerakan yang di sepakati untuk isu-isu perdamaian dengan yang mempunyai visi yang sama. Sedangkan pola yang horizontal mengenai konsep-konsep kaderisasi, mengenai sistem pola rapatnya dalam organisasi tersebut.
Pengurus Pusat PMKRI (PP PMKRI) adalah badan eksekutif PMKRI di level nasional yang bertugas mengkoordinir (mengurus) Cabang PMKRI berikut Calon Cabang PMKRI dan Kota Jajakan PMKRI. Lebih dari itu, PP PMKRI menjadi representasi organisasi dalam hubungan ekternal kekatolikan maupun internal kekatolikan, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejatinya, PP PMKRI bukan supra struktur dari DPC PMKRI (Cabang PMKRI), melainkan primus inter pares.




FIELD NOTE

Nama : Senior PMKRI
Umur : 45 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Hotel Garden Pelece Surabaya

Hari/Tanggal : Selasa/28 Oktober 2008
Pukul : 13.00-16.00 WIB

Subjek Penelitian: duduk-duduk diteras kantor PMKRI

Organisasi ini berdiri pada tahun 1947, yang terdapat 26 KSV (Katholieke Studenten Vereniging) sebagai organisasi mahasiswa katolik. Pada tanggal 12 juni 1947 terdapat kegiatan mahasiswa ektra kampus,di tahun 1971 mendeklarasikan kelompok cipayung bersama mahasiswa kampus yang terdiri dari GMKI, GMNI, HMI, dan PMII. Pada saat itu juga sekaligus menjadi awal terentuknya PMKRI. Tahun 1974 terbentuklah trimerari yamg di pelopori oleh kelompok cipayung bersama mahasiswa kampus. Kegiatan organisasi ini lebih banyak menyuarakan mahasiswa dengan warna-warna kekatolikannya.
Setiap organisasi memiliki visi dan misi, begitu juga organisasi PMKRI yang mempunyai visi dan misi yang berbeda dengan organisasi lain, tetapi mempunyai tujuan yang sama. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995:
“ setiap organisasi mempunyai visi dan misi, organisasi ini juga punya yang jelas berbeda dengan organsasi lian,kalau kita mempunyai visi misi yang sama, kenapa kita harus mendirikan organisasi ini. Kita mendirikan organisasi ini karena kita mempunyai visi misi yang berbeda.”
Gerakan yang dilakukan oleh mahasiswa katolik untuk memperjuangkan perdamaian menggunakan aksi yang berbeda-beda. Masing-masing angkatan mempunyai cara untuk memperjuangkannya. Gerakan yang dilakukan ada yang fase 5 tahunan mengenai era politik atau kemerdekaan, fase 25 tahunan mengenai pergantian politik. Dalam organisasi ini model gerakan yang dilakukan untuk memperjuangkan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yaitu yang mana dulu gerakan itu diidentikkan dengan melakukan aksi-aksi demo. Tetapi saai ini mereka banyak yang melakukannya dengan cara melalui kegiatan seminar, diskusi dll. Seperti yang di kemukakan oleh senior PMKRI angkatan 1995:
“gerakan yang di lakukan oleh setian angkatan berbeda-beda, seperti pada saat angktan saya itu tidak sama dengan angkatan sebelumnya. Gerakan yang di lakukan ada yang fase 5 tahna dan ada fase yang 25 tahunan. Semua tergantung pada angkatannya”
Isu-isu yang di kembangkan dalam organisasi ini adalah mengenai demokrasi dan cara memperjuangkannya, tetapi pada tahun ini yang di kembangkan mehasiswa kebanyakan sesuia dengan agama.
Pola rekruitmen anggota dalam organisasi ini bersifta terbuka utau umum. Keanggotaan tidak harus berasal dari katolik, tetapi non katolik juga bisa masuk dalam organisasi tersebut. Dalam pemilihan kepengurusan, organisasi PMKRI terdapat system penyaringannya. Pola yang di lukukan ada yang vertical dan horizontal. Pola vertikan mengenai mengepos dengan pemerintah dengan pola dan gerakan yang di sepakati untuk isu-isu perdamaian dengan yang mempunyai visi yang sama. Sedangkan pola yang horizontal mengenai konsep-konsep kaderisasi, mengenai system pola rapatnya dalam organisasi tersebut. Reflektif:
- Sejarah berdirinya PMKRI
- Visi dan misi PMKRI
- Bentuk gerakan yang dilakukan PMKRI
- Isu-isu yang dikembangkan PMKRI
- Pola rekrutmen anggota PMKRI

Selasa, 21 Oktober 2008

USULAN PERKULIAHAN LUAR KELAS

MATA KULIAH GERAKAN SOSIAL

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia

(PMKRI)


Oleh:

  1. Siti Khojiatun A. (064564019)

  2. Grace Dwiana N. (064564025)

  3. Dewi Kemala S. (064564212)

  4. Ali Kusuma W. (064564221)



    PROGRAM STUDI SOSIOLOGI

    FAKULTAS ILMU SOSIAL

    UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

2008


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Gerakan sosial memiliki imbas luar biasa dalam negara. Ada bermacam jenis gerakan sosial. Meskipun semua ini diklasifikasikan sebagai jenis gerakan yang berbeda, jenis-jenis gerakan ini bisa tumpang-tindih, dan sebuah gerakan tertentu mungkin mengandung elemen-elemen lebih dari satu jenis gerakan. Salah satunya adalah gerakan perdamaian, gerakan ini sudah cukup lama menjadi perhatian berbagai kalangan di Indonesia, khususnya sejak tahun 1980-an. Ketika itu, lomba senjata nuklir dan perang dingin melatari meningkatnya secara pesat gerakan perdamaian di berbagai belahan dunia. Gerakan perdamaian awal 1980-an ini lebih besar dan luas daripada gerakan serupa di tahun 1960-an. Selain peneliti dan ilmuwan, dokter, artis, mahasiswa, dan kalangan LSM banyak yang terlibat membicarakan bahaya perang nuklir bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Keberhasilan mereka pantas dicatat, isu nuklir yang sebelumnya rahasia negara dibawa ke diskusi publik. Gerakan ini berhasil pula memperkenalkan dan memopulerkan metode perlawanan kekerasan.

Pada dasawarsa 1990-an, kajian-kajian perdamaian mulai muncul mendampingi gerakan perdamaian dekade sebelumnya. Sebagai contoh, di Universitas Gadjah Mada pada 1996 berdiri Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) di UGM. Selain itu, sejak 1996-1997 di Universitas Gadjah Mada muncul beberapa mata kuliah baru yang terkait langsung dengan riset perdamaian dan resolusi konflik, seperti pengantar studi perdamaian, negosiasi dan resolusi konflik, dan analisis dan transformasi konflik. Di Universitas Indonesia lahir Ceric yang dimotori Imam B Prasojo. Penekanan pada studi dan riset juga berlanjut setelah periode Orde Baru. Misalnya, beberapa peneliti LIPI membentuk Research for Democracy and Peace (RIDEP). Pada tahun 2002 Universitas Gadjah Mada membuka program Magister Studi Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK), sebagai lembaga pemberi gelar pertama di bidang perdamaian dan resolusi konflik di Indonesia.1

Masyarakat pasca perang tersadarkan, mengikuti ego kekuasaan sangat nerugikan banyak pihak, baik masyarakat sipil maupun pemerintah. Namun seringkali pertikaian ‘dicipta’ dan diprovokasi untuk kepuasan kelompok tertentu dalam perluasan wilayah sebagai bukti kegemilangan peradaban sehingga clash civilization dalam bahasanya Samuel Huntington tak dapat dihindari. Kehidupan manusia didunia hakikatnya bukan permainan dadu yang mempertaruhkan kalah dan menang, mengadu kekuatan untuk mencapai kekuasaan demi kepuasan kelompok atau Negara tertentu, melainkan memperluas garis perdamaian, cinta kasih dan toleransi (tasamuh) antarmanusia agar tercipta suasana harmonis2. Kita boleh berbeda agama, budaya, Negara dan gagasan, namun kita harus mampu menghargai perbedaan dan menjaga kesejahteraan dengan meningkatkan solidaritas antarmanusia. Zaman semakin maju, teknologi informasi pun semakin pesat, ilmuwan semakin hari bertumpah. Semua itu diharapkan mampu menciptakan perdamaian di tingkat dunia, bukan menambah anarkisme dan agresivitas di berbagai lini kehidupan. Tapi itu akan sia-sia bila kejeniusan itu dimanfaatkan untuk menginvasi nyawa manusia lain, untuk meluluhlantakan nyawa manusia lain justru sifat itu lebih hewan daripada hewa-hewan yang ada. Fenomena itu memberikan dorongan bagi masyarakat tertentu untuk mendirikan sebuah LSM dengan tujuan mengajak semua masyarakat berpartisipasi dalam memerangi terjadinya peperangan, menumbuhkan rasa cinta kasih dan saling menghargai semua perbedaan yang ada dalam diri setiap orang. Berdasarkan alasan inilah maka peneliti mengambil tema ini.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana latar belakang dan ideologi terbentuknya LSM Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)?

  2. Bagaimana cara yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui latar belakang dan ideologi terbentuknya LSM Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

  2. Untuk mengetahui cara yang mereka lakukan untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan

D. Manfaat

Manfaat dari penelitian ini adalah memperkaya kajian gerakan sosial khususnya gerakan perdamaian, mengapilikasikan teori yang telah didapat dalam perkuliahan.


BAB II

LANDASAN TEORI

Definisi gerakan sosial sebagimana dinyatakan dalam Encyclopedia of Marxist adalah: “By social movement is meant an autonomous and self-conscious movement of people united by support of some ideal, rather than by pursuit of the material self-interest of its members (though material interests are generally not too far under the surface) … It is frequently difficult to draw a line between a social movement and other classic types of social formation, based on class, race, rationality or religion which have dominated politics since time immerorial…. Social movement can not be formally defined according to structure or lack of….. structure; Social movement are dynamics entities which essentially go through all sorts of stages and transformations…”

Melalui definisi ini, gerakan sosial didukung oleh gagasan ideal ketimbang pengejaran kepentingan material. Dengan demikian, pada dasarnya, gerakan sosial senantiasa berkaitan dengan perubahan menuju suatu arah yang dianggap ideal oleh para penggeraknya. Dengan bahasa lain, gerakan sosial dan perubahan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, untuk mempelajari perubahan, maka penting pula mamahami gerakan sosial.

Asal usul gerakan sosial dapat ditelusuri dari reaksi para pemikir Perancis, dalam mana kerumunan dan massa melakukan tindakan luar biasa terhadap kaum bangsawan. Studi tentang asal usul gerakan sosial setidaknya harus menyebut sejumlah nama, yakni, Marx dan Engels, Gramsci serta Lenin (Tarrow, 1994). Marx dan Engels memberikan kontribusi penjelasan pada akar dari gerakan sosial yakni struktur sosial. Sementara Gramsci dan Lenin memberikan sumbangan tentang peranan politik (political opportunity), organisasi dan kebudayaan dalam melahirkan gerakan atau aksi sosial. Kebudayaan merupakan faktor penting dalam revolusi menurut pandangan Gramsci. Gerakan, baginya, hanya bersenjatakan organisasi, tetapi “intelektual kolektif” yang pandangan dan pikirannya tersampaikan ke masa pekerja melalui kader pemimpin menengah. Organiasi gerakan sosial didefinisikan sebagai kelompok yang memiliki kesadaran diri untuk bertindak, concern untuk mengungkapkan apa yang dilihatnya sebagai klaim-klaim dengan menentang kelompok elit, penguasa, atau kelompok lain (Tarrow, 1991:18).

Konsep gerakan sosial digambarkan oleh Smelser (1962) adalah sebagai perilaku kolektif, di mana rakyat ikut serta dalam usaha memperbaiki dan menyusun kembali struktur sosial yang dipandang rusak. McPhil berpendapat bahwa perilaku kolektif secara relatif berlangsung spontan ketimbang direncanakan, tidak berstruktur, diorganisir, emosional ketimbang rasional dan menyebar dengan kasar, bentuk komunikasi yang paling dasar seperti reaksi yang tak berujung pangkal, rumor, imitasi, penyakit sosial, dan keyakinan yang digeneralisir ketimbang jaringan komunikasi formal dan informal yang telah dibentuk sebelumnya. Dalam tulisan ini gerakan sosial justru dilihat sebaliknya, yaitu sebagai gerakan yang diorganisir dengan tujuan, strategi dan metodologi, yang diformulasikan secara jelas dan sadar berdasarkan analisis sosial yang kuat.

Gerakan sosial pada dasarnya tidaklah meledak secara tiba-tiba, tetapi ia melewati tahapan tertentu yang rasional. Smelser (1962) melalui teori perilaku kolektif (collective behavior theory) memperkenalkan sejumlah 6 (enam) tahapan suatu gerakan sosial yang terjadi dalam masyarakat yakni (1) structural conduciveness, (2) structural strain, (3) spread of a generalized belief, (4) precipitating factors, (5) mobilization of participators for action, dan (5) operation of social control.

Teori strukturasi Giddens (1984) pada dasarnya merupakan bangunan kerangka ontologis dalam melakukan kajian-kajian terhadap tindakan-tindakan manusia, termasuk gerakan sosial. Teori ini menawarkan pemikiran tentang hakekat tindakan-tindakan manusia dan lembaga-lembaga sosial serta hubungan antara tindakan dengan lembaga-lembaga sosial. Dimunculkan konsep duality of structure (dualitas struktur) yang sekaligus merupakan kata kunci dan inti dari teori ini. Diyakini bahwa antara obyek dengan subyek, antara struktur dan agen bukanlah sebuah dualisme yang dikotomik, melainkan dualitas di mana antara satu dengan yang lain terdapat hubungan dialektik untuk kemudian saling mempengaruhi. Di dalamnya terdapat hubungan dialektik untuk proses produksi dan reproduksi dalam waktu yang sama.

Menurut Giddens, struktur berada pada posisi sebagai sebuah medium yang sekaligus juga outcomes (hasil) suatu agensi. Kemudian, struktur-struktur selain dapat muncul sebagai constraining, juga dapat mewujud sebagai enabling. Dalam pandangan Giddens, struktur dimaknakan sebagai generative rules and resources. Aturan-aturan dapat bersifat institutif dan normatif. Sedangkan sumber-sumber lebih mengisyaratkan distribusi sumber otoritatif (kewenangan politik) dan sumber produktif (material/ekonomi) (Bryant, 1991). Di sisi lain dikatakan, struktur pada dasarnya hanyalah semacam prosedur umum saja yang menjadi acuan dan bingkai orientasi bagi tindakan sosial. Karena itu, struktur relatif bebas dari kungkungan ruang dan waktu. Sementara tindakan-tindakan sosial (agensi) yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari selalu berlangsung dalam konteks ruang dan waktu. Dengan demikian, para aktor (atau agen) senantiasa bertindak sesuai dengan situasi actual yang muncul saat itu (Giddens, 1984:17, 25).

Dengan menggunakan perspektif relative deprivation (teori deprivasi relatif) yang ditawarkan Gurr melihat bahwa sebagai hasil kolonisasi, kelompok, ide-ide, obyek-obyek, dan pola organisasi baru diperkenalkan ke dalam masyarakat non-Barat, di mana mereka mengganti dan mengancam kelompok pribumi yang telah berdiri sebelumnya. Di dalam situasi ini, sejumlah individu dan kelompok di antara orang yang dikolonisasi merasa adanya kesenjangan yang timbul antara apa yang diharapkan dalam segi status dan perolehan materi dengan apa yang mereka miliki atau kapasitas mereka untuk memperolehnya3.

Kasus untuk gerakan sosial yang ada di Negara Dunia Ketiga, seringkali berkaitan secara tidak langsung dengan pendekatan perubahan sosial yang dominan (mainstream approach), yaitu suatu perubahan sosial yang direkayasa oleh Negara, melalui apa yang disebut sebagai Pembangunan (Development). Pembangunan seringkali dianggap oleh masyarakat sebagai penyebab kemacetan ekonomi, krisis ekologis, serta berbagai kesengsaraan masyarakat di Negara Dunia Ketiga. Dan hal tersebut merupakan perlawanan dan kritik terhadap skenario Modernisasi, yang mengasumsikan dan merancang untuk membawa kemajuan dan kemakmuran masyarakat di suatu Negara Dunia Ketiga. Menurut pendapat Bonner (Mansour Fakih: 2004), dalam konteks Dunia Ketiga, studi tentang gerakan sosial dan transformasi sosial tidak dapat dipisahkan dari masalah “Pembangunan”. Studi tersebut bermasud untuk mencari alternatif terhadap gagasan “Pembangunan” yang selama dua dasawarsa ini telah menjadi suatu “Agama Sekuler Baru” bagi berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga. Dalam aplikasinya, pembangunan sering dianggap sebagi satu-satunya tujuan bagi pihak pemerintah di negara tersebut. Pembangunan banyak diterima oleh kalangan birokrat, akademisi maupun aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat tanpa mempertanyakan landasan ideologi dan diskursusnya. Beberapa pertanyaan yang perlu menjadi bahan kajian terhadap ide pembangunan bukanlan semata-mata mengenai soal metodologi, pendekatan dan pelaksanaan pembangunan itu sendiri, tetapi secara teoristis justru pembangunan itu sendiri dianggap sebagai gagasan kontroversial, yaitu perlu dipertanyakan adalah apakah pembangunan benar-benar merupakan jawaban untuk memecahkan masalah bagi berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga atau semata-mata hanya sebagai alat menyembunyikan permasalahan atau penyakit yang sebenarnya lebih mendasar? Banyak pakar ilmu sosial secara kritis telah meneliti dampak pembangunan dan menganggap bahwa justru ide pembangunan telah menciptakan kesengsaraan dari pada memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh berjuta-juta masyarakat di Negara Dunia Ketiga.

Studi tentang gerakan sosial dapat dibagi menjadi dua pendekatan yang saling bertentangan. Pendekatan pertama adalah teori yang cenderung melihat gerakan sosial sebagai suatu “masalah” atau disebut sebagai gejala penyakit masalah kemasyarakatan. Teori ini berakar dan dipengaruhi oleh teori sosiologi dominan, yaitu Fungsionalisme atau sering disebut sebagai Fungsionalisme Struktural. Fungsionalisme melihat masyarakat dan pranata sosial sebagai sistem dimana seluruh bagiannya saling tergantung satu sama lain dan bekerja bersama guna menciptakan keseimbangan. Dalam hal ini “keseimbangan” merupakan unsur kunci utama dengan menekankan pentingnya kesatuan masyarakat dan sesuatu yang dimiliki bersama oleh anggotanya. Oleh sebab itu, gerakan sosial dianggap sebagai sesuatu yang “negatif” karena akan dapat menimbulkan konflik yang dapat mengganggu keharmonisan dalam masyarakat.

Pendekatan kedua adalah teori-teori ilmu sosial yang justru melihat gerakan sosial sebagai “fenomena positif”, atau sebagai sarana konstruktif bagi perubahan sosial. Pendekatan ini merupakan alternatif terhadap fungsionalisme, dan dikenal dengan “Teori Konflik”. Teori konflik pada dasarnya mengunakan tiga asumsi dasar, yaitu : 1) Rakyat dianggap sebagai sejumlah kepentingan dasar dimana mereka akan berusaha secara keras untuk memenuhinya, 2) Kekuasaan adalah inti dari struktur sosial dan hal ini melahirkan perjuangan untuk mendapatkannya, dan 3) Nilai dan gagasan adalah senjata konflik yang digunakan oleh berbagai kelompok untuk mencapai tujuan masing-masing, dari pada sebagai alat mempertahanlan identitas dan menyatukan tujuan masyarakat.Teori konflik berakar dari paham Marxisme tradisional yang menyatakan bahwa revolusi adalah suatu kebutuhan yang disebabkan oleh memburuknya hubungan produksi yang memunculkan masa krisis ekonomi, depresi dan kehancuran. Marxisme tradisional tersebut banyak mendapatkan kritik dari generasi Marxisme baru, khususnya terhadap pendekatannya yang bersifat mekanistik. Generasi Marxisme baru (dipengaruhi oleh pemikiran Antonio Gramsci: 1891 – 1937) menyatakan bahwa peran manusia sebagai agen, termasuk ideologi, kesadaran kritis dan pendidikan, dalam mentransformasikan krisis ekonomi menjadi krisis umum. Mereka menolak bahwa perekonomian adalah sesuatu yang esensial dan faktor penentu bagi perubahan sosial, serta menolak gagasan determinisme historis yang mengagungkan manusia sebagai faktor penting di antara banyak faktor lainnya yang saling tergantung secara dialektis. Mereka mengajukan argumen bahwa gerakan sosial yang terjadi pada tahun 1970an dan 1980an sama sekali tidak menekankan ke arah gerakan perjuangan kelas, seperti yang didefinisikan oleh penganut Marxisme tradisional. Gerakan spiritual, gerakan fenimisme, gerakan hak azasi manusia dan hak-hak sipil, gerakan anti perang dan anti nuklir, gerakan sosial berbasis komunitas dan gerakan pecinta lingkungan, serta gerakan Lembaga Swadaya Masyarakat merupakan gerakan yang tidak berkaitan secara langsung dengan perjuangan kelas dari kelas buruh.

Antonio Gramsci adalah pemikir politik yang sangat mempengaruhi pendekatan kedua ini, yaitu dengan teorinya tentang perubahan sosial yang nonreduksionis dan teorinya mengenai hegemoni. Implikasi teori hegemoni adalah bahwa kelas buruh tidak lagi dianggap sebagai pusat gerakan revolusioner atau bukan lagi titik fokal dan sebagai unsur utama dalam gerakan perubahan sosial. Disamping itu Gramsci juga mengemukakan teorinya tentang kemungkinan menciptakan aliansi antara unsur kelas buruh dan kelompok lainnya, dan menekankan transformasi kesadaran sebagai bagian proses revolusioner4.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Sifat Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari subjek penelitian, selain itu juga perilaku yang diamati. Metode kualitatif memandang bahwa realita sosial adalah jamak, jadi terdapat suatu perbedaan pandangan dari tiap-tiap orang mengenai suatu realita sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi. Dalam fenomenologi subjek penelitian dipandang sebagai individu yang bebas dan kreatif dalam menkonstruksi dunianya.5 Dalam penelitian ini peneliti mngajak subjek penelitian untuk mencermati suatu fenomena dan kemudian meminta subjek penelitian untuk mengungkapkan pendapatnya.

B.Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian Luar Kelas (PLK) ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2008. Lokasi penelitian ini telah ditetapkan di Perhimpunan Mahasisiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di daerah Garden Palace Surabaya. Alasan metodologis pemilihan tempat tersebut karena tempat ini merupakan sebuah organisasi yang bertujuan untuk memperjuangkan perdamaian.

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam Penelitian Luar Kelas (PLK) ini adalah para anggota Perhimpunan Mahasisiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Karena mereka dianggap lebih tahu mengenai tema penelitian ini.

D.Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian itu menggunakan dua cara yaitu yaitu data primer dan data sekunder. Penggalian data primer menggunakan teknik in-dept interview. Observasi partisipasi ini dilakukan oleh peneliti sebagai upaya untuk memperoleh gambaran dan informasi secara jelas. Hal tersebut juga membantu peneliti untuk mengetahui secara detail daerah yang akan menjadi objek penelitian. Sedangkan, teknik wawancara yang akan dipakai untuk menggali data dalam penelitian ini ialah dengan in-dept interview atau wawancara secara mendalam. Adapun langkah-langkah dalam melakukan in-dept interview yaitu Getting in yang dilakukan peneliti untuk beradaptasi agar bisa diterima dengan baik oleh subjek penelitian. Hal ini dimaksudkan peneliti menciptakan situasi kekeluargaan dan beramah tamah untuk menarik perhatian atau menarik simpati dari subjek penelitian. Sehingga peneliti dapat membangun trust (kepercayaan) agar tidak ada jarak antara peneliti dengan subjek penelitian. Seteleh itu, peneliti harus dapat menjaga perilaku dan penampilan seperti lingkungan dari subjek penelitian.

Data in-dept interview yang dilumpulkan berupa jawaban-jawaban, ucapan-ucapan atau perilaku yang didasarkan dari hubungan empati, respon itu merupakan pengelompokan dari berbagai fenomena yang ditemukan dilapangan. Dalam upaya memperlancar proses in-dept interview terlebih dahulu peneliti harus membuat instrumen penelitian yang berupa catatan-catatan tentang perihal yang akan diteliti dan yang akan ditanyakan oleh peneliti. Setelah informasi diperoleh peneliti akan menyusun kembali dalam bentuk field note atau catatan lapangan. Field note tidak lain adalah catatan yang dibuat oleh peneliti ketika mengadakan pengamatan, wawancara atau menyaksikan suatu kejadian tertentu.

Data sekunder berupa data yang di ambil dari media baik media masa maupun elektronik dan internet. Data ini digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh.

E.Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses mengatur mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian data6. Tujuan pokok penelitian ini adalah menjawab pertanyaan dengan menggunakan metode wawancara sehingga dapat mengetahui pergeseran perekonomian masyarakat yang akan diteliti. Data yang diperoleh ini pada akhirnya dilakukan analisa data sebagai persyaratan dari laporan yang akan peneliti laporkan.

Proses analisis data ini peneliti mengumpulkan data secara bertahap. Pertama, peneliti menelaah seluruh dari berbagai sumber dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, yaitu melalui pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang terjadi serta respon dari perilaku anggota Perhimpunan Mahasisiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Kedua, memusatkan perhatian kepada masalah mikro, yaitu mempelajari proses pembentukan dan pemeliharaan kehidupan anggota Perhimpunan Mahasisiwa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Ketiga, memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan serta berusaha memahami bagaimana keteraturan dalam masyarakat tercipta dan terpelihara dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan norma-norma yang mengendalikan masyarakat dinilai sebagai hasil interpretasi masyarakat terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya. Keempat, setelah data terkumpul maka dilakukan reduksi data, yaitu dengan membuat rangkuman dari hasil pengamatan dan wawancara yang dianggap penting.

Kelima, analisis data ialah mengadakan pemeriksaan keabsahan data dengan menggunakan metode trianggulasi7. Metode ini dapat ditempuh dengan beberapa langkah, yaitu: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasDan tahap terakhir setelah tahap-tahap tersebut adalah tahap penafsiran data yaitu mengkritisi teori dari dat yang ada sesuai dengan tinjauan teori yang telah diberikan.i penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan dan perspektif seorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.



DAFTAR PUSTAKA

Adib, Mohammad. Industri Kecil Sebagai Gerakan Sosial. 28 Januati 2008

Amrin, Ahmad Muchlis. Menciptakan Perdamaian Dunia. Media Indonesia, Kamis 24 Januari 2008, Halaman 16


Moleong J. Lexy. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal5


Santoso, Slamet. Gerakan Sosial Dn Teori Hegemoni. 02 Juli 2007. http//ssantoso.blogspot.com


Httm//gersos\index.php.htm



1 Httm//gersos\index.php.htm

2Ahmad Muchlis Amrin. Menciptakan Perdamaian Dunia. Media Indonesia, Kamis 24 Januari 2008, Halaman 16

3 Mohammad Adib Surabaya. Industri Kecil Sebagai Gerakan Sosial. 28 Januati 2008

4 Slamet Santoso. Gerakan Sosial dan Teori Hegemoni. 02 Juli 2007. http//ssantoso.blogspot.com

5 Lexy J. Moleong. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal5

6 Ibid. Halaman 97.

7 Ibid. Halaman 99.